Pembelajaran
pada abad 21 dilandasi dengan filosofis Postmodernisme. Abad
21 masyarakatnya telah berkembang menjadi kontemporer dimana pendidikan bukan
lagi dalam kategori modern tetapi sudah diatas modern yaitu postmodern. Perlu
adanya paradigma pembelajaran baru atau yang diperbarui di awal abad 21 ini.
Setidaknya ada tiga paradigma yang perlu kita ketahui bersama: kemampuan otak
yang tak hingga, informasi cepat, dan kurikulum seutuhnya. Abad-21 ini pembelajaran aktif sudah selayaknya
beralih ke pembelajaran aktif yang sesuai dengan kompetensi yang harus
ditingkatkan pada siswa. Sudah tidak lagi membimbing dan mengarahkan siswa
dengan langkah-langkah pembelajaran atau pertanyaan-pertanyaan prosedural. Di
abad-21 ini siswa harus belajar berinisiatif dan mengarahkan dirinya sendiri.
Salah
satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan
terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran
baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di
tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan
kehidupan dengan negara lain.
Ketertinggalan
didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu
diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang
telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk
pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber
daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di
negara-negara lain.
Sekolah
memerlukan sumber belajar yang banyak. Tetapi sekolah dihadapkan pada kenyataan
bahwa sumber belajar yang ada di perpustakaan sangat terbatas. Koleksi buku dan
compact disk (CD) yang dimiliki sekolah pun acap kali sudah usang. Pembaharuan
koleksi buku dan CD tentu memerlukan biaya yang sangat besar. ICT dapat
dijadikan solusi bagi permasalahan ini.
Menurut
Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan ke dalam 4
prinsip, yaitu:
a. Instruction
should be student-centered
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek
pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang
dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi
pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan
keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya,
sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi
di masyarakat.
Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru
menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih
tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu
mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki siswa
dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk
belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong
siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya.
Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa
ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan
keterampilannya.
b. Education
should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi
dengan orang lain. Berkolaborasi dengan
orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya.
Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa
berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek,
siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang
serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan
mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru)
seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di
berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang
praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka
bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
c. Learning
should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak
memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu,
materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru
mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan
dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai,
makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat
mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian
kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
d. Schools
should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara
yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk
terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian
masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas
tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai
pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan,
pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak
pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan
kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini
bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di
sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan
masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa
menjadi warga digital yang bertanggung jawab.
Maka dengan paradigma konstruktivisme, siswa harus
dianggap memiliki pengetahuan awal, dan tugas guru hanya mengkonstruksinya.
Siswa pun diibaratkan tanaman yang sudah punya potensi untuk tumbuh dan
berkembang, sedangkan guru hanya berfungsi sebagai penyiram yang membantu
tanaman (siswa) tumbuh dan berkembang dengan baik. Akibatnya, peran guru
berubah dari pengajar menjadi fasilitator dengan model pembelajaran yang
berpusat pada siswa (student center), tidak lagi berpusat pada guru (teacher
center). Proses belajar mengajar (PBM) bersifat memandirikan siswa dalam
mengeksplorasi rasa keingintahuannya dan memecahkan masalah yang diberikan
guru.
Tugas utama guru adalah mengembangkan potensi siswa
secara maksimal lewat penyajian mata pelajaran. Setiap mata pelajaran, dibalik
materi yang dapat disajikan secara jelas, memiliki nilai dan karakteristik
tertentu yang mendasari materi itu sendiri. Oleh karena itu, pada hakekatnya
setiap guru dalam menyampaikan setiap mata pelajaran harus menyadari sepenuhnya
bahwa seiring menyampaikan materi pelajaran, ia harus pula mengembangkan watak
dan sifat yang mendasari dalam mata pelajaran itu sendiri.
Materi pelajaran dan aplikasi nilai-nilai terkandung
dalam mata pelajaran tersebut senantiasa berkembang sejalan dengan perkembangan
masyarakatnya. Agar guru seanantiasa dapat menyesuaikan dan mengarahkan
perkembangan, maka guru harus memperbaharui dan meningkatkan ilmu pengetahuan
yang dipelajari secara terus menerus. Dengan kata lain, diperlukannya adanya
pembinaan yang sistematis dan terencana bagi para guru.
Memasuki
abad 21 pendidikan akan mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi
pergeseran paradigma:
§
Dari belajar terminal
ke belajar sepanjang hayat
§
Dari belajar
berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik
§
Dari citra
hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan
§
Dari pengajar yang
menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus
pendidikan nilai
§
Dari kampanye
melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi, budaya, dan komputer
§
Dari penampilan
guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja
§
Dari konsentrasi
eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. Dengan memperhatikan pendapat
ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai
tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif.
Pertanyaan yang ingin
penulis Diskusikan :
1. Apa saja kesiapan yang harus
dimiiki oleh seorang pendidik (guru) ketika menghadapi proses pembelajaran pada
abad 21 ini?
2.
Apa apa saja kendala
saat menghadapi proses pembelajaran sains abad 21, baik dari guru maupun dari
siswa?
3. Bagaimanakah cara sekolah menghadapi pembelajaran abad
21 yang lebih menggunakan teknologi ke
dalam proses pembelajaran dengan sarana dan prasarana yang terbatas?