Senin, 17 September 2018

PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21




Pembelajaran pada abad 21 dilandasi dengan filosofis Postmodernisme. Abad 21 masyarakatnya telah berkembang menjadi kontemporer dimana pendidikan bukan lagi dalam kategori modern tetapi sudah diatas modern yaitu postmodern. Perlu adanya paradigma pembelajaran baru atau yang diperbarui di awal abad 21 ini. Setidaknya ada tiga paradigma yang perlu kita ketahui bersama: kemampuan otak yang tak hingga, informasi cepat, dan kurikulum seutuhnya. Abad-21 ini pembelajaran aktif sudah selayaknya beralih ke pembelajaran aktif yang sesuai dengan kompetensi yang harus ditingkatkan pada siswa. Sudah tidak lagi membimbing dan mengarahkan siswa dengan langkah-langkah pembelajaran atau pertanyaan-pertanyaan prosedural. Di abad-21 ini siswa harus belajar berinisiatif dan mengarahkan dirinya sendiri.
Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.
Ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.
Sekolah memerlukan sumber belajar yang banyak. Tetapi sekolah dihadapkan pada kenyataan bahwa sumber belajar yang ada di perpustakaan sangat terbatas. Koleksi buku dan compact disk (CD) yang dimiliki sekolah pun acap kali sudah usang. Pembaharuan koleksi buku dan CD tentu memerlukan biaya yang sangat besar. ICT dapat dijadikan solusi bagi permasalahan ini.
Menurut Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan  ke dalam 4 prinsip, yaitu:  
a.     Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya.  Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
b.     Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
c.     Learning should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
d.     Schools should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang bertanggung jawab.
Maka dengan paradigma konstruktivisme, siswa harus dianggap memiliki pengetahuan awal, dan tugas guru hanya mengkonstruksinya. Siswa pun diibaratkan tanaman yang sudah punya potensi untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan guru hanya berfungsi sebagai penyiram yang membantu tanaman (siswa) tumbuh dan berkembang dengan baik. Akibatnya, peran guru berubah dari pengajar menjadi fasilitator dengan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center), tidak lagi berpusat pada guru (teacher center). Proses belajar mengajar (PBM) bersifat memandirikan siswa dalam mengeksplorasi rasa keingintahuannya dan memecahkan masalah yang diberikan guru.
Tugas utama guru adalah mengembangkan potensi siswa secara maksimal lewat penyajian mata pelajaran. Setiap mata pelajaran, dibalik materi yang dapat disajikan secara jelas, memiliki nilai dan karakteristik tertentu yang mendasari materi itu sendiri. Oleh karena itu, pada hakekatnya setiap guru dalam menyampaikan setiap mata pelajaran harus menyadari sepenuhnya bahwa seiring menyampaikan materi pelajaran, ia harus pula mengembangkan watak dan sifat yang mendasari dalam mata pelajaran itu sendiri.
Materi pelajaran dan aplikasi nilai-nilai terkandung dalam mata pelajaran tersebut senantiasa berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Agar guru seanantiasa dapat menyesuaikan dan mengarahkan perkembangan, maka guru harus memperbaharui dan meningkatkan ilmu pengetahuan yang dipelajari secara terus menerus. Dengan kata lain, diperlukannya adanya pembinaan yang sistematis dan terencana bagi para guru.
Memasuki abad 21 pendidikan akan mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma:
§  Dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat
§   Dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik
§   Dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan
§  Dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai
§   Dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi, budaya, dan komputer
§   Dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja
§  Dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif.

Pertanyaan yang ingin penulis Diskusikan :
1. Apa saja kesiapan yang harus dimiiki oleh seorang pendidik (guru) ketika menghadapi proses pembelajaran pada abad 21 ini?
2.      Apa apa saja kendala saat menghadapi proses pembelajaran sains abad 21, baik dari guru maupun dari siswa?
3. Bagaimanakah cara sekolah menghadapi pembelajaran abad 21 yang lebih menggunakan  teknologi ke dalam proses pembelajaran dengan sarana dan prasarana yang terbatas?



Rabu, 12 September 2018

Model Pembelajaran Kontekstual dan Model Pembelajaran Kolaboratif



Model pembelajaran kontekstual
A.  Pengertian model pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Melalui model CTL, siswa diharapkan belajar mengalami bukan menghafal. (Sugiyanto: 2009) Pembelajaran kontekstual sebagai suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah,dan menemukan pengalaman belajar yang bersifat konkret melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses (Rusman, 2017:322)
B.  Karakteristik Pembelajaran Berbasis kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
a.       Kerjasama
b.      Saling menunjang
c.       Menyenangkan, tidak membosankan
d.      Belajar dengan gairah
e.       Pembelajaran terintegrasi
f.       Menggunakan berbagai sumber
g.      Siswa aktif
h.      Sharing dengan teman
i.        Siswa Kritis, dan Guru Kreatif
j.        Dinding kelas & lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta,      gambar, artikel, humor, dan lain sebagainya
k.      Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.

C.  Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kontekstual (CTL)
a.       Kelebihan
1.    Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil
2.    Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
3.    tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
4.     Pembelajaran lebih produktif
5.    Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar melalui mengalami bukan menghafal
b.      Kekurangan
Kekurangan pembelajaran kontekstual diantaranya adalah orientasi yang melibatkan siswa sehingga guru harus memahami secara mendasar tentang perbedaan potensi individu tiap-tiap siswa. Pembelajaran ini pada dasarnya membutuhkan berbagai sarana dan media yang variatif.

Model pembelajaran kolaboratif
A.      Pengertian model pembelajaran kolaboratif
Barkhley (2017: 4) menyatakan bahwa “mengkolaborasikan adalah mengerjakan sesuatu dengan pihak lain”. Dalam pembelajaran kolaboratif siswa belajar berpasangan atau membentuk kelompok kecil utuk mencapai tujuanmereka memebentuk kelompok belajar, tidak belajar sendiri. .
Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam bagian satu tim, dan bercampur dalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.
Pengertian pembelajaran kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil ke arah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.
Piaget dengan konsepnya “active learning” berpendapat bahwa para siswa belajar lebih baik jika mereka berpikir secara kelompok. Piaget juga berpendapat bila suatu kelompok aktif, kelompok tersebut akan melibatkan yang lain untuk berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih menarik.

B.        Peranan Guru dalam Kelas Kolaboratif
1.      Fasilitator ( pemudah cara )
Fasilitator dalam perkara–perkara yang terlibat dalam mewujudkan lingkungan yang aktif dan kaya dengan idea baru, memberi ruang kepada bekerja secara kolaboratif dengan penyelesaian masalah, dan menyediakan berbagai tugas bermakna bagi masa depan siswa.
2.      Pengatur kelas
Guru mengatur kelas dengan standar kelas kolaborasi.  Kelas kolaboratif dilengkapi dengan berbagai bahan bacaan. Dalam kelas ditempatkan ruangan jurnal, majalah , buku–buku rujukan, surat kabar dan berbagai media lain yangoleh diakses siswa sebagai penghubung idea. Siswa mampu menjalankan  aktivitas atau proyek untuk menjalankan eksperimennya.
3.       Memberi tugas pada siswa  
Selain menyusun atur siswa dalam kelas, siswa juga diberi tugas  dan tanggungjawab masing–masing. Suasana kebergantungan ini dilihat bergerak seacara aktif dan bukan pasif demi keharmonian dan kebermaknaan, kelancaran proses pengajaran pembelajaran dalam kelas.  Pada suasana yang lain guru juga boleh melibatkan siswa dengan siswa yang lain (kelompok rekan sebaya) siswa dengan guru–guru yang lain (guru bimbingan konseling, guru eksktrakurikuler, dan  guru mata pelajaran ) dan forum orang tua murid (POM) serta pakar di bidang tertentu.
4.      Manajemen dalam kelas
Guru juga dapat melihat beberapa susunan sosial untuk memudahkan komunikasi dan kerjasama antara pelajar di dalam kelas.  Pada situasi ini,  guru menetapkan satu iklim kelas yang perlu dipatuhi bersama.  Seperti bertanya untuk penjelasan, beri peluang kepada semua menyumbang idea, menghargai pendapat yang berbeda dan termasuk juga membuat bantahan  dan menolak idea.

C.       Contoh Pembelajaran Kolaboratif di Kelas
Salah satu contoh strategi pembelajaran kolaboratif adalah card sort.  Strategi ini digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sipat, fakta tentang obyek, atau mengulangi informasi.  Strategi ini menguras banyak energi, sehingga tidak disarankan digunakan ketika siswa dalam kondisi letih.  Prosedurnya adalah sebagai berikut:
1.    Berilah siswa kartu indeks yang memberikan informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
2.    Mintalah siswa untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
3.    Biarkan siswa yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada yang lainnya.
4.    Selagi masing-masing katagori dipresentasikan, buatlah point dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.

Pertanyaan yang ingin penulis diskusikan :
1.    Apa saja nilai-nilai yang menjadi penekanan dalam pembelajaran kolaboratif?
2.    Bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif pada saat menerapkan model-model pembelajaran?
3.     Dari kedua model pelajaran ini,Lalu apa saja dampak positif bagi siswa ?

REFERENSI
Titin, N. (2015), Penerapan Model Pembelajaran Kolaboratif disertai strategi Quantum Teaching untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas x pm 1 smk negeri 6 surakarta.jurnal penelitian :indonesia

Idrus, H. (2014), Model Pembelajaran  CTL (Contextual Teaching and Learning).jurnal: indonesia



EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DALAM PEMBELAJARAN SAINS

A. Pengertian dan Prinsip Model Pembelajaran Quantum Learning Quantum teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digun...