Rabu, 12 September 2018

Model Pembelajaran Kontekstual dan Model Pembelajaran Kolaboratif



Model pembelajaran kontekstual
A.  Pengertian model pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Melalui model CTL, siswa diharapkan belajar mengalami bukan menghafal. (Sugiyanto: 2009) Pembelajaran kontekstual sebagai suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah,dan menemukan pengalaman belajar yang bersifat konkret melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses (Rusman, 2017:322)
B.  Karakteristik Pembelajaran Berbasis kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
a.       Kerjasama
b.      Saling menunjang
c.       Menyenangkan, tidak membosankan
d.      Belajar dengan gairah
e.       Pembelajaran terintegrasi
f.       Menggunakan berbagai sumber
g.      Siswa aktif
h.      Sharing dengan teman
i.        Siswa Kritis, dan Guru Kreatif
j.        Dinding kelas & lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta,      gambar, artikel, humor, dan lain sebagainya
k.      Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.

C.  Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kontekstual (CTL)
a.       Kelebihan
1.    Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil
2.    Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
3.    tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
4.     Pembelajaran lebih produktif
5.    Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar melalui mengalami bukan menghafal
b.      Kekurangan
Kekurangan pembelajaran kontekstual diantaranya adalah orientasi yang melibatkan siswa sehingga guru harus memahami secara mendasar tentang perbedaan potensi individu tiap-tiap siswa. Pembelajaran ini pada dasarnya membutuhkan berbagai sarana dan media yang variatif.

Model pembelajaran kolaboratif
A.      Pengertian model pembelajaran kolaboratif
Barkhley (2017: 4) menyatakan bahwa “mengkolaborasikan adalah mengerjakan sesuatu dengan pihak lain”. Dalam pembelajaran kolaboratif siswa belajar berpasangan atau membentuk kelompok kecil utuk mencapai tujuanmereka memebentuk kelompok belajar, tidak belajar sendiri. .
Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam bagian satu tim, dan bercampur dalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.
Pengertian pembelajaran kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil ke arah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.
Piaget dengan konsepnya “active learning” berpendapat bahwa para siswa belajar lebih baik jika mereka berpikir secara kelompok. Piaget juga berpendapat bila suatu kelompok aktif, kelompok tersebut akan melibatkan yang lain untuk berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih menarik.

B.        Peranan Guru dalam Kelas Kolaboratif
1.      Fasilitator ( pemudah cara )
Fasilitator dalam perkara–perkara yang terlibat dalam mewujudkan lingkungan yang aktif dan kaya dengan idea baru, memberi ruang kepada bekerja secara kolaboratif dengan penyelesaian masalah, dan menyediakan berbagai tugas bermakna bagi masa depan siswa.
2.      Pengatur kelas
Guru mengatur kelas dengan standar kelas kolaborasi.  Kelas kolaboratif dilengkapi dengan berbagai bahan bacaan. Dalam kelas ditempatkan ruangan jurnal, majalah , buku–buku rujukan, surat kabar dan berbagai media lain yangoleh diakses siswa sebagai penghubung idea. Siswa mampu menjalankan  aktivitas atau proyek untuk menjalankan eksperimennya.
3.       Memberi tugas pada siswa  
Selain menyusun atur siswa dalam kelas, siswa juga diberi tugas  dan tanggungjawab masing–masing. Suasana kebergantungan ini dilihat bergerak seacara aktif dan bukan pasif demi keharmonian dan kebermaknaan, kelancaran proses pengajaran pembelajaran dalam kelas.  Pada suasana yang lain guru juga boleh melibatkan siswa dengan siswa yang lain (kelompok rekan sebaya) siswa dengan guru–guru yang lain (guru bimbingan konseling, guru eksktrakurikuler, dan  guru mata pelajaran ) dan forum orang tua murid (POM) serta pakar di bidang tertentu.
4.      Manajemen dalam kelas
Guru juga dapat melihat beberapa susunan sosial untuk memudahkan komunikasi dan kerjasama antara pelajar di dalam kelas.  Pada situasi ini,  guru menetapkan satu iklim kelas yang perlu dipatuhi bersama.  Seperti bertanya untuk penjelasan, beri peluang kepada semua menyumbang idea, menghargai pendapat yang berbeda dan termasuk juga membuat bantahan  dan menolak idea.

C.       Contoh Pembelajaran Kolaboratif di Kelas
Salah satu contoh strategi pembelajaran kolaboratif adalah card sort.  Strategi ini digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sipat, fakta tentang obyek, atau mengulangi informasi.  Strategi ini menguras banyak energi, sehingga tidak disarankan digunakan ketika siswa dalam kondisi letih.  Prosedurnya adalah sebagai berikut:
1.    Berilah siswa kartu indeks yang memberikan informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
2.    Mintalah siswa untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
3.    Biarkan siswa yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada yang lainnya.
4.    Selagi masing-masing katagori dipresentasikan, buatlah point dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.

Pertanyaan yang ingin penulis diskusikan :
1.    Apa saja nilai-nilai yang menjadi penekanan dalam pembelajaran kolaboratif?
2.    Bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif pada saat menerapkan model-model pembelajaran?
3.     Dari kedua model pelajaran ini,Lalu apa saja dampak positif bagi siswa ?

REFERENSI
Titin, N. (2015), Penerapan Model Pembelajaran Kolaboratif disertai strategi Quantum Teaching untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas x pm 1 smk negeri 6 surakarta.jurnal penelitian :indonesia

Idrus, H. (2014), Model Pembelajaran  CTL (Contextual Teaching and Learning).jurnal: indonesia



10 komentar:

  1. saya menanggapi pertanyaan no.2, cara untuk menciptakan pembelajaran efektif dalam menerapkan model tersebut yaitu hal pertama yang kita lakukan adalah memahami sintax nya atau langkah-langkah model tersebut, sesuaikan dengan materi yang akan diajari, buat RPP sesuai dengan langkag-langkah model tersebut, buat instrumen penilaian aktivitas siswa dalam kelas, kemudian melakukan evaluasi untuk mengukur pengetahuan siswa dari materi yang dipelajari melalui model pembelajaran yang telah dilaksanakan. pada akhirnya guru dapat mengukur apakah sudah efektif dalam menerapkan model tersebut.

    BalasHapus
  2. Dari pertanyaan no 1,saya berpendapat bahwa yang menjadi nilai-nilai penekanan dalam pembelajaran kolaboratif yaitu perlu adanya kerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah secara berkelompok melalui diskusi dengan teman yang lain yang memiliki pandangan dan pemikiran yang berbeda-beda, melalui hal tersebut maka setiap anggota akan memiliki pandangan yang luas karena saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan keterampilan sehingga melalui semua itu kelompok dapat menyelesaikan tugas yang diberikan melalui pemikiran bersama yang dianggap benar dan baik. sealain itu, guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran sedangkan siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
  3. saya akan mengomentari pertanyaan nomor 3
    dampak positif apa saya yang akan dirasakan oleh siswa jika mengikuti model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif
    diantaranya adalah seperti yang kita ketahui bahwa model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif ini lebih banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya. tentunya akan berdampak lebih pada siswa, seperti siswa akan mendapatkan pengalaman lebih dalam bekerja sama dianatara anggota kelompok dalam menyelesaikan masalah yang dipeljari
    kemudian selain itu, siswa akan dengan sendirinya menjadi lebih peka dan mengenal lebih dengan lingkungan sekitar, karena model pemebelajaran kontekstual mengaitkan topik pembelajaran dengan lingkugan dan fenomena yg terjadi saat ini.

    terima kasih :)

    BalasHapus
  4. Pertanyaan no 3 siswa dalam model pembelajaran kontektlstual dapat menggunakan pengetahunnya untuk memecahkan masalah didunia nyata.sedangkan pada model pembelajaran kolaboratif siswa dapat meningkatkan sikap kerjasama,komunikatif,dan menghargai perbedaan pendapat.

    BalasHapus
  5. Saya mencoba menjawab pertanyaan no3
    Dampak positif bagi siswa pd model d atas adalah siswa menJadi lebih kritis pd model kontekstual dpt menggunakan pengetahuan pemecahan masalah sedangkan pada kolaboratif siswa amnjd lebih aktif karna pd model ini trdpt sikap kerja sama antar kelompok
    Terimakasih

    BalasHapus
  6. Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 2.Bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif pada saat menerapkan model-model pembelajaran?
    Model pembelajaran disuaikan dengan materi pembelajaran. Guru juga bisa memodifikasi model pembelajaran supaya tercapainya tujua pembelajaran. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat rohana kusumawati
      model pembelajaran disesuaikan dengan materi yg akan disampaikan dan sebaiknya sebelum memulai pembelajaran, guru memberi tau siswa model dan sintaks model pembelajaran yg akan digunakan

      Hapus
  7. bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif? yaitu guru harus memahami terlebih dahulu materi yangakan diajarkan sehingga tidak ada keraguan saat belajar dan tidak hanya itu guru harus mencocokan materi dengan model yang akan digunakan, guru harus mengerti sintak dan langkah-langkah yang ada dalam model tersebut serta mempersiapkan rpp agar ada penuntun saat proses pembelajran.

    BalasHapus
  8. dalam model pembelajaran kontektlstual dapat menggunakan pengetahunnya untuk memecahkan masalah didunia nyata.sedangkan pada model pembelajaran kolaboratif siswa dapat meningkatkan sikap kerjasama,komunikatif,dan menghargai perbedaan pendapat.

    BalasHapus
  9. menciptakan pembelajaran yang efektif dengan melaksanakan sintaks pembelajaran. guru juga perlu memperhatikan karakter peserta didiknya, materi yang akan dipelajari, sarana prasarana yang tersedia

    BalasHapus

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DALAM PEMBELAJARAN SAINS

A. Pengertian dan Prinsip Model Pembelajaran Quantum Learning Quantum teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digun...