Model pembelajaran kontekstual
A. Pengertian model pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual
merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks
dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga,
masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam
kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru
lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru
mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu
yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan
sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola
dengan pendekatan kontekstual.
Melalui
model CTL, siswa diharapkan belajar mengalami bukan menghafal. (Sugiyanto:
2009) Pembelajaran kontekstual sebagai suatu model
pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari,
mengolah,dan menemukan pengalaman belajar yang bersifat konkret melalui
keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri.
Dengan demikian, pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, akan
tetapi yang terpenting adalah proses (Rusman, 2017:322)
B. Karakteristik Pembelajaran Berbasis
kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
a.
Kerjasama
b.
Saling menunjang
c.
Menyenangkan, tidak
membosankan
d.
Belajar dengan gairah
e.
Pembelajaran
terintegrasi
f.
Menggunakan berbagai
sumber
g.
Siswa aktif
h.
Sharing dengan teman
i.
Siswa Kritis, dan
Guru Kreatif
j.
Dinding kelas &
lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain
sebagainya
k.
Laporan kepada orang
tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum,
karangan siswa, dan sebagainya.
C. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran
kontekstual (CTL)
a.
Kelebihan
1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil
2. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan
antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat
penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan
nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan
tetapi materi yang dipelajarinya akan
3. tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan
mudah dilupakan.
4. Pembelajaran
lebih produktif
5. Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan penguatan konsep
kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme,
yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan
filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar melalui mengalami bukan
menghafal
b.
Kekurangan
Kekurangan pembelajaran kontekstual diantaranya adalah
orientasi yang melibatkan siswa sehingga guru harus memahami secara mendasar
tentang perbedaan potensi individu tiap-tiap siswa. Pembelajaran ini pada
dasarnya membutuhkan berbagai sarana dan media yang variatif.
Model pembelajaran kolaboratif
A.
Pengertian
model pembelajaran kolaboratif
Barkhley (2017: 4)
menyatakan bahwa “mengkolaborasikan adalah mengerjakan sesuatu dengan pihak
lain”. Dalam pembelajaran kolaboratif siswa belajar berpasangan atau membentuk
kelompok kecil utuk mencapai tujuanmereka memebentuk kelompok belajar, tidak
belajar sendiri. .
Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja
bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam bagian satu tim, dan bercampur
dalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.
Pengertian
pembelajaran kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa
dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil ke arah
satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan
yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang
positif untuk mencapai kesuksesan.
Piaget dengan konsepnya “active learning” berpendapat
bahwa para siswa belajar lebih baik jika mereka berpikir secara kelompok. Piaget juga berpendapat bila
suatu kelompok aktif, kelompok tersebut akan melibatkan yang lain untuk
berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih menarik.
B.
Peranan Guru
dalam Kelas Kolaboratif
1. Fasilitator
( pemudah cara )
Fasilitator dalam perkara–perkara yang terlibat dalam
mewujudkan lingkungan yang aktif dan kaya dengan idea baru, memberi ruang
kepada bekerja secara kolaboratif dengan penyelesaian masalah, dan menyediakan
berbagai tugas bermakna bagi masa depan siswa.
2. Pengatur
kelas
Guru mengatur kelas dengan standar kelas
kolaborasi. Kelas kolaboratif dilengkapi dengan berbagai bahan bacaan.
Dalam kelas ditempatkan ruangan jurnal, majalah , buku–buku rujukan, surat
kabar dan berbagai media lain yangoleh diakses siswa sebagai penghubung idea.
Siswa mampu menjalankan aktivitas atau proyek untuk menjalankan
eksperimennya.
3. Memberi
tugas pada siswa
Selain menyusun atur siswa dalam kelas, siswa juga
diberi tugas dan tanggungjawab masing–masing. Suasana kebergantungan ini
dilihat bergerak seacara aktif dan bukan pasif demi keharmonian dan
kebermaknaan, kelancaran proses pengajaran pembelajaran dalam kelas. Pada
suasana yang lain guru juga boleh melibatkan siswa dengan siswa yang lain
(kelompok rekan sebaya) siswa dengan guru–guru yang lain (guru bimbingan
konseling, guru eksktrakurikuler, dan guru mata pelajaran ) dan forum
orang tua murid (POM) serta pakar di bidang tertentu.
4. Manajemen
dalam kelas
Guru juga dapat melihat beberapa susunan sosial untuk
memudahkan komunikasi dan kerjasama antara pelajar di dalam kelas. Pada
situasi ini, guru menetapkan satu iklim kelas yang perlu dipatuhi
bersama. Seperti bertanya untuk penjelasan, beri peluang kepada semua
menyumbang idea, menghargai pendapat yang berbeda dan termasuk juga membuat
bantahan dan menolak idea.
C.
Contoh Pembelajaran
Kolaboratif di Kelas
Salah satu contoh
strategi pembelajaran kolaboratif adalah card sort. Strategi
ini digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sipat, fakta tentang
obyek, atau mengulangi informasi. Strategi ini menguras banyak energi,
sehingga tidak disarankan digunakan ketika siswa dalam kondisi letih.
Prosedurnya adalah sebagai berikut:
1. Berilah
siswa kartu indeks yang memberikan informasi atau contoh yang cocok dengan satu
atau lebih katagori.
2. Mintalah siswa untuk mencari temannya dan menemukan
orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
3. Biarkan siswa yang kartu katagorinya sama menyajikan
sendiri kepada yang lainnya.
4. Selagi masing-masing katagori dipresentasikan, buatlah
point dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.
Pertanyaan
yang ingin penulis diskusikan :
1.
Apa saja nilai-nilai yang menjadi penekanan dalam
pembelajaran kolaboratif?
2.
Bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif pada saat
menerapkan model-model pembelajaran?
3.
Dari kedua model
pelajaran ini,Lalu apa saja dampak positif bagi siswa ?
REFERENSI
Titin, N. (2015), Penerapan Model Pembelajaran Kolaboratif disertai strategi Quantum
Teaching untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas x pm 1 smk negeri 6 surakarta.jurnal
penelitian :indonesia
Idrus, H. (2014), Model Pembelajaran CTL (Contextual
Teaching
and Learning).jurnal: indonesia
saya menanggapi pertanyaan no.2, cara untuk menciptakan pembelajaran efektif dalam menerapkan model tersebut yaitu hal pertama yang kita lakukan adalah memahami sintax nya atau langkah-langkah model tersebut, sesuaikan dengan materi yang akan diajari, buat RPP sesuai dengan langkag-langkah model tersebut, buat instrumen penilaian aktivitas siswa dalam kelas, kemudian melakukan evaluasi untuk mengukur pengetahuan siswa dari materi yang dipelajari melalui model pembelajaran yang telah dilaksanakan. pada akhirnya guru dapat mengukur apakah sudah efektif dalam menerapkan model tersebut.
BalasHapusDari pertanyaan no 1,saya berpendapat bahwa yang menjadi nilai-nilai penekanan dalam pembelajaran kolaboratif yaitu perlu adanya kerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah secara berkelompok melalui diskusi dengan teman yang lain yang memiliki pandangan dan pemikiran yang berbeda-beda, melalui hal tersebut maka setiap anggota akan memiliki pandangan yang luas karena saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan keterampilan sehingga melalui semua itu kelompok dapat menyelesaikan tugas yang diberikan melalui pemikiran bersama yang dianggap benar dan baik. sealain itu, guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran sedangkan siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.
BalasHapussaya akan mengomentari pertanyaan nomor 3
BalasHapusdampak positif apa saya yang akan dirasakan oleh siswa jika mengikuti model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif
diantaranya adalah seperti yang kita ketahui bahwa model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif ini lebih banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya. tentunya akan berdampak lebih pada siswa, seperti siswa akan mendapatkan pengalaman lebih dalam bekerja sama dianatara anggota kelompok dalam menyelesaikan masalah yang dipeljari
kemudian selain itu, siswa akan dengan sendirinya menjadi lebih peka dan mengenal lebih dengan lingkungan sekitar, karena model pemebelajaran kontekstual mengaitkan topik pembelajaran dengan lingkugan dan fenomena yg terjadi saat ini.
terima kasih :)
Pertanyaan no 3 siswa dalam model pembelajaran kontektlstual dapat menggunakan pengetahunnya untuk memecahkan masalah didunia nyata.sedangkan pada model pembelajaran kolaboratif siswa dapat meningkatkan sikap kerjasama,komunikatif,dan menghargai perbedaan pendapat.
BalasHapusSaya mencoba menjawab pertanyaan no3
BalasHapusDampak positif bagi siswa pd model d atas adalah siswa menJadi lebih kritis pd model kontekstual dpt menggunakan pengetahuan pemecahan masalah sedangkan pada kolaboratif siswa amnjd lebih aktif karna pd model ini trdpt sikap kerja sama antar kelompok
Terimakasih
Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 2.Bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif pada saat menerapkan model-model pembelajaran?
BalasHapusModel pembelajaran disuaikan dengan materi pembelajaran. Guru juga bisa memodifikasi model pembelajaran supaya tercapainya tujua pembelajaran. Terima kasih
saya setuju dengan pendapat rohana kusumawati
Hapusmodel pembelajaran disesuaikan dengan materi yg akan disampaikan dan sebaiknya sebelum memulai pembelajaran, guru memberi tau siswa model dan sintaks model pembelajaran yg akan digunakan
bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif? yaitu guru harus memahami terlebih dahulu materi yangakan diajarkan sehingga tidak ada keraguan saat belajar dan tidak hanya itu guru harus mencocokan materi dengan model yang akan digunakan, guru harus mengerti sintak dan langkah-langkah yang ada dalam model tersebut serta mempersiapkan rpp agar ada penuntun saat proses pembelajran.
BalasHapusdalam model pembelajaran kontektlstual dapat menggunakan pengetahunnya untuk memecahkan masalah didunia nyata.sedangkan pada model pembelajaran kolaboratif siswa dapat meningkatkan sikap kerjasama,komunikatif,dan menghargai perbedaan pendapat.
BalasHapusmenciptakan pembelajaran yang efektif dengan melaksanakan sintaks pembelajaran. guru juga perlu memperhatikan karakter peserta didiknya, materi yang akan dipelajari, sarana prasarana yang tersedia
BalasHapus